Kamis, 12 Juli 2012

BIMBINGAN DAN KONSELING




BAB I

PENDAHULUAN



Bimbingan atau Guidance dewasa ini telah menjadi salah satu pelayanan pendidikan
yang sangat dirasakan keperluan dan urgensinya di sekolah-sekolah, bukan saja di luar negeri
tapi juga di Indonesia.
Telah kita ketahui bahwa sekolah-sekolah didirikan untuk mengemban tugas
mewujudkan aspirasi nasional, cita-cita bangsa serta tujuan-tujuan pendidikan yang telah
dipikirkan dan dirumuskan dengan seksama. Sekolah harus dengan segala kesungguhan
melaksanakan tugasnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan, yaitu: “Membimbing anak didik
menjadi warga Negara Indonesia yang berpribadi, berdasarkan akan ke-Tuhan-an Yang Maha
Esa, berkesadaran bermasyarakat dan mampu membudayakan alam sekitarnya, serta dapat
menjadi manusia yang dapat memperkembangkan diri sendiri secara optimal, sesuai dengan
kecerdasan, bakat dan minat masing-masing, sehingga memiliki kepribadian yang seimbang dan
berjiwa makarya serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan mayarakat dan tanah air”.
Setelah kita memperhatikan pengertian dan tujuan dari bimbingan dan konseling di dalam
pelaksanaan program pendidikan, di dalam pelaksanaannya bimbingan dan konseling selain
berfungsi memberikan bimbingan kepada siswa (klien) dalam menyelesaikan permasalahannya
maka perlu sebuah kegiatan pelayanan di dalam pelaksanaannya dan kegiatan-kegiatan
pendukung dari bimbingan dan konseling sehingga pelaksanaan bimbingan dan konseling dapat
terlaksana secara menyeluruh dan berkesinambungan.




















1








BAB II

PEMBAHASAN



A. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling
Ada beberapa servis atau layanan dalam bimbingan dan konseling, yaitu:
1. Layanan Orientasi

Layanan

orientasi

adalah

layanan

bimbingan

yang

dilakukan

untuk

memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru
dimasukinya.1 Layanan orientasi ini bertujuan untuk membantu individu agar mampu
menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau situasi yang baru dan agar individu dapat
memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari berbagai sumber yang ada pada suasanan
atau lingkungan baru. Layanan orientasi ini ada dua macam, yakni: layanan orientasi
di sekolah dan layanan orientasi di luar sekolah. Teknik layanan orientasi ini
dilaksanakan melalui teknik format lapangan, klasikal, kelompok, individual, dan
kelompok.



2. Layanan Pengumpulan Data
Layanan ini merupakan layanan bimbingan yang diberikan kepada siswa dengan
jalan mengumpulkan berbagai informasi mengenai dirinya maupun mengenai
lingkungannya.2 Tujuan dari layanan ini adalah untuk lebih mengenal dan memahami
keadaan siswa secara menyeluruh. Layanan ini amat penting karena siswa adalah
makhluk yang unik sehingga hanya dengan pengenalan yang mendetail, kita akan
dapat menentukan langkah dalam memberikan bantuan.
Data yang dikumpulkan berkenaan dengan kemampuan-kemampuan intelektual,
sosial, fisik, kondisi kesehatan, karakteristik emosi, sikap, minat, motivasi, dan lain-
lain. 3 Data tersebut dikumpulkan baik dengan cara testing maupun nontesting .




255.

hal. 64.


1

2

3


Prayitno & Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (edisi revisi), Rineka Cipta, 2004, hal.

Elfi Mu’awanah dan Rifa Hidayah, BIMBINGAN KONSELING ISLAMI, (Jakarta: Bumi Aksara), 2009,

Nana Syaodih Sukmadinata, LANDASAN PSIKOLOGI PROSES PENDIDIKAN, (Bandung: Remaja

Rosdayakarya), 2009 hal. 238.
2












a.









b.











Teknik testing
Teknik testing adalah cara mengumpulkan data dengan alat-alat tes, terutama tes
yang sudah terstandar (dibakukan), misalnya tes kecerdasan, tes bakat, tes minat,
tes ingatan, tes kepribadian, dan tes sikap. Aspek yang diungkap melalui teknik
testing umumnya aspek psikologis.
Teknik nontes

Teknik nontesting

adalah cara mengumpulkan data dengan alat-alat nontes

misalnya teknik observasi, interview, angket, biografi, dokumentasi, problem
check list, angket kebiasaan belajar, home visit, sosiometri.



3. Layanan Informasi
Pelayanan ini disediakan untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan
karena kekurangan atau ketidaktahuan akan informasi. Banyak informasi yang
diperlukan oleh siswa, misalnya: sekolah-sekolah yang dapat dimasuki setelah SMP
atau SMA, pekerjaan-pekerjaan yang ada di masyarakat, cara belajar sesuatu bidang
studi, masa depan bagi sesorang yang memasuki jurusan tertentu di perguruan tinggi
dan sebagainya.
Isi layanan ini mencakup seluruh bidang pelayanan dengan teknik layanan:
ceramah, melalui media, acara khusus, narasumber.4



4. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan Penempatan dan Penyaluran bertujuan agar siswa memperoleh tempat

yang sesuai dalam mengembangkan potensi diri siswa atau seseorang.
penempatan dan penyaluran meliputi potensi diri dan lingkungan.
a.
Potensi diri mencakup:
-
Potensi inteligensi

5

Isi layanan



4


Zikri Neni Iska, BIMBINGAN DAN KONSELING PENGANTAR PENGEMBANGAN DIRI &

PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK/KLIEN, 2008, (Jakarta: Kizi Brother’s), hal. 53.

5

Ibid, hal. 54.

3








-
-
-







Kondisi psikofisik
Kemampuan berkomunikasi
Kemampuan pancaindera

b.

Lingkungan

-
-
-
-
-

Kelengkapan dan tata letak serta susunan fisik lingkungan
Iklim dan cuaca
Hubungan sosial masyarakat
Dinamika suasana kerja
Aturan-aturan dan norma-norma




5.



Layanan Konseling
Untuk membantu para siswa yang menghadapi masalah-masalah sosial pribadi,
maka program bimbingan menyediakan bantuan pelayanan konseling. Konseling dapat
diberikan secara individual (konseling individual), maupun kelompok (konseling
kelompok).

a.

Konseling individual

Layanan

konseling

individual

bermakna

layanan

konseling

yang

diselenggarakan oleh konselor terhadap klien dalam rangka pengentasan maslaah
pribadi klien. Dengan konseling perorangan, klien akan mampu memahami
kondisi dirinya sendiri, lingkungannya dan permasalahan yang dialami, kekuatan
dan kelemahan dirinya serta upaya untuk mengatasi masalahnya.
b. Konseling kelompok
Layanan konseling kelompok dimaknai sebagai suatu upaya konselor
membantu memecahkan masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-
masing kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal. Tujuan layanan
konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa
khususnya kemampuan berkomunikasinya.




6.



Layanan Bimbingan Kelompok








4








Layanan







bimbingan kelompok adalah suatu cara memberikan bantuan

(bimbingan) kepada individu/siswa/klien mellaui kegiatan kelompok. Dalam layanna
bimbingan kelompok, maka aktifitas dan dinamika kelompok dapat diwujudkan untuk
membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan atau pemecahan masalah
individu. 6



7. Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan proses dalam suasana kerja sama dan hubungan
antarpribadi dengan tujuan memecahkan suatu masalah dalam lingkup professional
dari orang yang meminta konsultasi. Ada tiga unsur lingkup professional, yaitu klien,
orang yang minta konsultan, dan konsultan.7




8.



Layanan Mediasi

Layanan mediasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan konselor
terhadap dua pihak atau lebih yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan
kecocokan atau dalam kondisi bermusuhan. Layanan mediasi ini bertujuan agar
terciptanya kondisi hubungan yang positif dan kondusif di antara klien yang
bermusuhan.



9. Layanan Home Visit
Home visit merupakan kegiatan konselor melakukan kunjungan rumah untuk
mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari jika informasi tentang siswa tidak dapat
diperoleh melalui angket atau wawancara.


B. Macam – Macam Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling

Kegiatan

pendukung

bimbingan

dan

konseling

adalah

usaha

untuk

mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien) juga tentang
lingkungannya, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, ataupun di lingkungan



6
7


ibid. hal. 55.
Elfi Mu’awanah dan Rifa Hidayah, op. cit. , hal. 70.






5








sekitarnya. Kegiatan ini dimaksudkan agar para pembimbing dan dosen lebih mudah
memahami potensi dan kekuatan, serta masalah yang dihadapi klien. dengan kegiatan
pendukung ini diharapkan akan terkumpul data-data yang akurat yang dihadapi oleh
seorang klien.
Kegiatan pendukung ini dilaksanakan tanpa harus kontak langsung dengan klien,
hal ini bertujuan untuk mempermudah dan meningkatkan kelancaran serta keberhasilan
kegiatan pelayanan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan oleh siswa,
dari semenjak mereka memasuki sekolah di hari pertama, yaitu membantu berorientasi
terhadap situasi, kondisi dan segala hal baru bahkan dirasakan asing bagi mereka.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah
dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung dalam hal ini,
terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, yaitu:8
1. Aplikasi Instrumentasi
Aplikasi Instrumentasi adalah upaya pengungkapan data melalui pengukuran
dengan memakai alat ukur atau instrumen tertentu. Hasil aplikasi ditafsirkan, disikapi
dan digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk layanan
konseling.
Aplikasi instrumentasi ini digunakan karena mendukung penyelenggaraan
jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung mulai dari perencanaan program,
penetapan inidividu, menetapkan materi layanan, sebagai bahan evaluasi dan
pengembangan program, yang perlu diperhatikan dalam aplikasi instrumentasi ini
adalah:
a. Materi yang hendak diungkapkan
b. Bentuk instrumen yang hendak digunakan dan juga dibantu dengan responden
yang bertugas untuk mengerjakan instrumen baik tes maupun non-tes melalui
pengadministrasi yang diselenggarakan oleh konselor.
Konselor sebagai pengguna hasil instrumen digunakan dalam melaksanakan
layanan konseling. Untuk tes psikologis konselor dapat bekerja sama dengan
psikolog (kolaborasi profesional). Operasionalisasi dalam kegiatan ini adalah:









a. Perencanaan
Menetapkan objek yang akan diukur, menetapkan subjek, menetapkan atau
menyusun instrumen, menetapkan prosedur, menetapkan fasilitas, menyiapkan
kelengkapan administratif.
b. Pelaksanaan

Mengkomunikasikan

rencana

pelaksanaan

aplikasi

instrumentasi,

mengorganisasikan kegiatan instrumen, mengadministrasi, mengolah jawaban
intrumen, menafsirkan dan menetapkan arah penggunaan hasil intrumen.
c. Evaluasi dan Analisis
Menetapkan materi evaluasi, menetapkan prosedur, melaksanakan evaluasi dan
mengolah serta menafsirkan hasil evaluasi. Menganalisis dengan menetapkan
norma/standar analisis, melakukan analisis dan menafsirkan hasil analisis.
d. Tindak Lanjut

Menetapkan

jenis

dan

arah

tindak

lanjut

aplikasi

instrumentasi,

mengkomunikasikan rencana tindak lanjut dan melaksanakan tindak lanjut, juga

menyusun

laporan

aplikasi

instrumentasi,

menyampaikan

laporan

dan

mendokumentasikan laporan.



Adapun tujuan umum dari kegiatan pendukung aplikasi instrumentasi adalah
diperolehnya data hasil pengukuran terhadap kondisi tertentu klien. Sedangkan
tujuan khususnya adalah terkait dengan fungsi-fungsi konseling yang didominasi
oleh fungsi pemahaman, dengan diperolehnya pemahaman, maka dapat diwujudkan
fungsi pencegah. Pada sisi, maka akan diperoleh juga fungsi pengembangan dan
pemeliharaan.



2. Himpunan data
Himpunan data adalah kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan
yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Himpunan data
diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu dan tertutup.
Kegiatan ini memiliki fungsi pemahaman.


7








Komponen penyelenggaraan himpunan atau pengumpulan data adalah jenis data,
bentuk dan penyelenggaraan himpunan data.

a.





b.









c.

Jenis data yang dihimpun mencakup: data psikologis (kemampuan intelektual,
bakat, minat, cita-cita dan sifat). Data sosial, seperti latar belakang keluarga,
status sosial dan lingkungan sosial.
Bentuk himpunan data. Semua data yang terhimpun dapat berupa rekaman, berupa
tulisan, angka, gambar, film, rekaman audio, video dan seluruh rekaman data itu
dapat terhimpun secara menyeluruh dalam bentuk: buku data pribadi, himpunan
lembaran dengan format yang didesain secara khusus, kumpulan data kelompok
dan laporan kegiatan, program komputer dan kumpulan data umum.
Penyelenggaraan himpunan data. Pembimbing atau konselor merupakan

penyelenggara himpunan data yang memiliki tiga tugas utama, yaitu:
menghimpun data; mengembangkan sumber data yang bersifat langsung; luas,
lugas, luwes dan lancar; menggunakan data untuk keperluan layanan BK.9
Konselor sebagai penyelenggara himpunan data memiliki fungsi menghimpun
data, mengembangkan data dan menggunakan data. Operasionalisasi dalam kegiatan
ini adalah:

a.









b.





c.

Perencanaan
Menetapkan jenis dan klasifikasi data serta sumber-sumbernya, menetapkan
bentuk himpunan data, menetapkan dan manata fasilitas, menetapkan mekanisme
pengisian, pemeliharaan dan penggunaan serta menyiapkan kelengkapan
administratif.
Pelaksanaan
Memetik dan memasukkan ke dalam himpunan data sesuai dengan klasifikasi,
memanfaatkan data, memelihara dan mengembangkan himpunan data.
Evaluasi dan Analisis

Mengkaji efisiensi sistematika dan penggunaan fasilitas

yang digunakan,

memeriksa kelengkapan, keakuratan, keaktualan dan kemanfaatan himpunan data,

serta melaksanakan analisis terhadap hasil

evaluasi berkenaan dengan



9



Zikri Neni Iska, c Op.cit. hal. 61




8








kelengkapan,







keakuratan,







keaktualan,







kemanfaatan







dan







efisiensi

penyelenggaraannya.
d. Tindak Lanjut

Mengembangkan himpunan data yang

mencakup: bentuk, klasifikasi dan

sistematika data, kelengkapan, keakuratan, ketepatan dan keaktualan data,

kemanfaatan

data,

Penggunaan

teknologi.

Data

yang terhimpun

harus

dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya dalam kegiatan layanan bimbingan dan

konseling.

Teknis penyelenggaraan serta menyusun laporan himpunan data,

menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.



Adapun tujuan umum dari kegiatan pendukung himpunan data adalah
Menyediakan data dalam kualitas yang baik dan lengkap untuk menunjang
penyelenggaraan pelayanan konseling sesuai dengan kebutuhan sasaran layanan.
sedangkan tujuan khususnya adalah memperoleh pemahaman diri sendiri terhadap
individu yang datanya dihimpun. Hal ini akan mewujudkan fungsi pencegahan dan
dapat pula fungsi pengentasan terhadap masalah individu. Lebih jauh, himpunan data

ini dapat dijadikan

bahan dalam melaksanakan fungsi pengembangan dan

pemeliharaan dan dapat juga digunakan dalam melindungi hak-hak individu yang
sedang mengalami masalah HAM.



3. Konferensi Kasus
Konferensi kasus adalah kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik
dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan
keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien.
Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Tujuan konferensi kasus
adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang
terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan
permasalahan klien. Kegiatan konferensi kasus memiliki fungsi pemahaman dan
pengentasan serta tidak menyinggung klien. Operasionalisasi dalam kegiatan ini
adalah :


9








a. Perencanaan
Konferensi kasus harus dibicarakan terlebih dahulu dan mendapat persetujuan dari
klien yang bermasalah. Seluruh peserta pertemuan harus diyakinkan memiliki
sikap yang teguh untuk merahasiakan segenap aspek dari kasus yang dibicarakan.
b. Pelaksanaan
Konselor harus mengarahkan pembicaraan sehingga seluruh peserta dapat
mengemukakan data atau keterangan yang mereka ketahui dan mengembangkan
pikiran untuk memecahkan masalah siswa.

c.









d.

Analisis dan Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari konferensi kasus yang sukses adalah apabila konselor
memperoleh data atau keterangan tambahan yang amat berarti bagi pemecahan
masalah siswa dan terbangunnya komitmen seluruh peserta pertemuan untuk
menyokong upaya pengentasan masalah siswa.
Tindak Lanjut

Seluruh hasil pertemuan dicatat dan didokumentasikan secara rapi oleh konselor
dan sebanyak-banyaknya dipergunakan untuk menunjang jenis-jenis layanan
masalah siswa yang bersangkutan.
Adapun tujuan umum dari kegiatan pendukung konferensi kasus adalah untuk
memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan
memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien.
sedangkan tujuan khususnya adalah diperolehnya gambaran yang lebih jelas,
mendalam dan menyeluruh tentang permasalahan yang dihadapi oleh siswa, serta

terkomunikasinya

sejumlah

aspek

permasalahan

kepada

pihak-pihak

yang

berkepentingan sehingga penanganan permasalahan menjadi lebih mudah dan tuntas.



4. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan,
kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui

kunjungan rumah

klien. Kerja sama dengan orangtua sangat diperlukan, dengan

tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua


10








atau keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. Kegiatan kunjungan rumah
memiliki fungsi pemahaman dan pengentasan.
Dalam hal ini kasus diidentifikasi terlebih dahulu kemudian dianalisis perlu atau
tidaknya diadakan kunjungan rumah sebagai tindak lanjut dari penanganan kasus

tersebut. kunjungan rumah menjangkau lapangan permasalahan klien

yang

menjangkau kehidupan keluarga dan terlaksanakan yaitu menghubungi pihak-pihak
terkait dengan keluarga. Materi yang perlu diperhatikan dihadapan orang tua tidak
boleh melanggar asas kerahasiaan klien, dan intinya semata-mata untuk memperdalam
masalah klien, serta tidak merugikan klien. Peran klien sendiri sangat penting dalam
kegiatan ini, yaitu klien menyetujui kunjungan rumah yang akan dilakukan konselor
dan mempertimbangkan perlu tidaknya ia terlibat saat kunjungan rumah.
Teknik yang dilakukan untuk kunjungan rumah adalah: format, materi, peran
klien, tempat, dan evaluasi. berikut penjelasannya:

a.



b.



c.

Format, pembimbing atau konselor memasuki lapangan permasalahn klien atau
siswa yang menjangkau kehidupan keluarga klien atau siswa.
Materi, konselor mempersiapkan berbagai informasi umum dan data tentang klien
yang layak diketahui oleh orangtua dan anggota keluarga lainnya.
Peran klien, konselor atau pembimbing perlu mempertimbangkan secara matang
apakah siswa akan dilibatkan atau tidak dalam pembicaraan antara pembimbing

dengan

anggota

keluarga

yang

dikunjungi.

Keterbukaan,

objektivitas,

kenyamanan, suasana, kelancaran kegiatan serta dampak positif bagi siswa dan
keluarganya menjadi pertimbangan dan kriteria keterlibatan siswa.

d.





e.

Kegiatan, konselor melakukan pembicaraan dengan anggota keluarga inti dan
melakukan observasi terhadap berbagai objek dalam keluarga yang dikunjungi
atas izin pemilik rumah.
Undangan terhhadap keluarga, apabila kunjungan rumah tidak mungkin
dilakukan, maka orangtua dan atau anggota keluarga dapat diundang ke sekolah
atau ke tempat lainnya sesuai dengan permasalahan siswa atau klien. Konteksnya
harus seizin klien. Undangan yang dilakukan tidak boleh bertujuan untuk
menyampaikan kepada anggota yang diundang yang isinya merugikan klien.


11








f.







g.







Waktu dan tempat, kapan dan berapa lama kunjungan rumah dilakukan tergantung
kepada perkembangan proses pelayanan terhadap siswa. Lamanya pembimbing
atau konselor berkunjung rumah keluarga siswa bergantung materi yang
dibicarakan dan kegiatan yang dilakukan di dalam keluarga bersangkutan.
Evaluasi, dilakukan adalah untuk mengetahui hasil-hasil dari kunjungan rumah.

Evaluasi terhadap unsur-unsur proses yang dilakukan secara berkelanjutan selama
proses berlangsung. Penilaian terhadap hasil-hasil kunjungan rumah dapat
diarahkan kepada kelengkapan dan akurasi data yang diperoleh serta manfaat data
tersebut dalam pelayanan terhadap siswa.10
Operasionalisasi dalam kegiatan kunjungan rumah ini adalah:
a. Perencanaan
Menetapkan kasus yang memerlukan kunjungan rumah, meyakinkan klien akan
kunjungan rumah, menyiapkan data dan informasi yang akan dikomunikasikan
dengan keluarga, menetapkan materi kunjungan rumah dan meyiapkan
kelengkapan administrasi.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaannya adalah mengkomunikasikan rencana pelaksanaan kunjungan

rumah, melakukan kunjungan rumah berupa: Bertemu anggota

keluarga

(orangtua/wali), Membahas masalah klien, melengkapi data, mengembangkan

komitmen,

menyelenggarakan

konseling keluarga

,

dan

merekam

dan

menyimpulkan hasil kunjungan rumah.
c. Evaluasi dan Analisis
Mengevaluasi proses pelaksanaan kunjungan rumah, mengevaluasi kelengkapan
dan keakurautan data hasil kunjungan rumah serta komitmen orangtua/wali,
mengevaluasi penggunaan data dalam rangka pengentasan masalah klien. Dan
menganalisis terhadap efektifitas penggunaan hasil kunjungan rumah terhadap
penanganan kasus.
d. Tindak lanjut




10



Zikri Neni Iska,op.cit, hal. 63.






12








Tindakan selanjutnya adalah mempertimbangkan apakah perlu dilaksanakan
kunjungan rumah ulang atau lanjutan dan mempertimbangkan tindak lanjut
layanan dengan menggunakan hasil kunjungan rumah yang lebih lengkap dan
akurat. Serta menyusun laporan kunjungan rumah, menyampaikan laporan dan
mendokumentasi laporan.



Adapun tujuan umum dari kegiatan pendukung kunjungan rumah adalah
diperolehnya data yang lebih lengkap dan akurat berkenaan dengan masalah klien
serta digalangnya komitmen orangtua atau anggota keluarga lainnya dalam rangka
penyelesaian masalah. Sedangkan tujuan khususnya adalah agar terpahaminya
permasalahan klien dan upaya perbaikannya. Hal ini dapat mencegah timbulnya
masalah lagi serta dapat berlanjut untuk mewujudkan fungsi pengembangan dan
pemeliharaan serta advokasi.



5. Alih Tangan Kasus
Alih tangan kasus merupakan kegiatan untuk memperoleh penanganan yang lebih
tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan
penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata
pelajaran atau konselor , dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik
dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang
dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Fungsi kegiatan ini adalah
pengentasan.
Sebelum di-ATK-kan, konselor hendaknya memperhatikan keadaan kenormalan
klien dan subtansi masalah klien. Harus dipertimbangkan bahwa dalam alih tangan
kasus ini masalah yang ada bukan lagi wewenang konselor . Konselor melakukan
kontak awal dengan ahli lain, melalui cara yang cepat dan tepat. Jika ditanggapi
positif oleh ahli lain yang dihubungi, maka klien bertemu dengan ahli lain tersebut
dengan membawa surat pengantar jika diperlukan. Operasionalisasi yang perlu
dilakukan dalam Alih tangan kasus ini adalah:

a.

Perencanaan




13








Menetapkan kasus yang akan dialihkan, meyakinkan klien akan ATK,
menghubungi ahli lain yang menjadi arah ATK, menyiapkan materi ATK dan
kelengkapan administratif.

b.





c.









d.

Pelaksanaan
Mengkomunikasikan rencana ATK kepada pihak terkait dan mengalihtangankan
klien kepada pihak terkait itu.
Evaluasi dan Analisis
Membahas hasil ATK melalui: klien, laporan dari ahli lain dan analisis hasil
ATK kemudian mengkaji hasil ATK terhadap pengentasan masalah klien. Serta
Melakukan analisis terhadap efektifitas ATK terhadap pengentsan masalah klien
secara menyeluruh.
Tindak Lanjut

Menyelenggarakan layanan lanjutan oleh konselor jika diperlukan atau klien
memerlukan ATK ke ahli lain lagi. serta menyusun laporan kegiatan ATK,
menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.



Adapun tujuan umum dari kegiatan pendukung alih tangan kasus adalah klien
mendapat layanan yang optimal atas masalah yang dialaminya. Sedangkan tujuan
khususnya adalah terwujudnya keempat fungsi konseling tarutama dalam upaya
pengentasan masalah klien. Layanan ini juga mewujudkan upaya pemahaman dan
pencegahan serta pengembangan dan pemeliharaan.




















14










BAB III

PENUTUP



A. Kesimpulan
1. Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling adalah usaha mengumpulkan data dan
keterangan tentang diri peserta didik (klien) juga tentang lingkungannya. Kegiatan
ini dimaksudkan agar para pembimbing dan dosen lebih mudah memahami potensi
dan kekuatan, serta masalah klien. Kegiatan pendukung ini dilaksanakan tanpa harus
kontak langsung dengan klien.
2. Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling meliputi : aplikasi instrumentasi,
himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, tampilan pustaka, alih
tangan kasus.
3. Kegiatan layanan BK terdiri dari sembilan layanan diantarnya, layanan orientasi,
layanan pengumpulan data (terbagi atas teknik testing dan nontesting ), layanan
informasi, layanan penempatan dan penyaluran (terbagi atas potensi diri dan
lingkungan), layanan konseling (terbagi atas konseling individual dan konseling
kelompok), layanan bimbingan kelompok, layanan konsultasi, layanan nmediasi dan
layanan home visit.























15










DAFTAR PUSTAKA



Djumhur, I., Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah.. Bandung: CV ILMU.
Mu’awanah, Elfi,. Rifa Hidayah. 2009. BIMBINGAN KONSELING ISLAMI. Jakarta: Bumi
Aksara.
Iska, Zikri Neni. 2008. BIMBINGAN DAN KONSELING PENGANTAR PENGEMBANGAN
DIRI & PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK/KLIEN. Jakarta: Kizi Brother’s.
Prayitno, Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (edisi revisi). Rineka Cipta.
Sukmadinata , Nana Syaodih. 2009. LANDASAN PSIKOLOGI PROSES PENDIDIKAN.
Bandung: Remaja Rosdayakarya.




































16